Dalam perencanaan tapak melibatkan arsitek, arsitek landskap, dan perancang kota, dengan berfokus pada hubungan antara bangunan dan tapaknya, dan antara tapak dan lokalitasnya. Secara khusus peranan arsitek mungkin meliputi pemilihan tapak (mencari tapak terbaik untuk suatu kegiatan tertentu), penilaian tapak (menilai keserasian suatu tapak tertentu untuk kegiatan yang berbeda-beda), dan perancangan tapak (membuat kecocokan yang layak antara bangunan dan tapak, dan antara ruang-ruang luar dengan bangunan-bangunan yang ada).
Perencanaan tapak (site planning) adalah seni menata lingkungan buatan manusia dan lingkungan alam guna menunjang kegiatan-kegiatan manusia. Pengkajian perencanaan tapak sering tersusun dalam dua komponen yang berhubungan, yaitu lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia. Lingkungan alam dibayangkan sebagai suatu sistem ekologi dari air, udara, energi, tanah, tumbuhan (vegetasi), dan bentuk-bentuk kehidupan yang saling mempengaruhi untuk membentuk suatu komunitas yang menyesuaikan diri dan berkembang jika lingkungan tersebut berubah.
Kegiatan manusia merupakan bagian penting dari sistem ekologi ini. Karena itu dalam pembangunan, yang jadi persoalan adalah mempertahankan suatu keselarasan yang hakiki dan menghindari terlampaunya kapasitas alam dari sistem tersebut guna menunjang kegiatan manusia. Suatu rancangan tapak yang baik akan dapat meningkatkan pelataran kegiatan manusia seraya memperhatikan sifat-sifat tapak yang asli.
Lingkungan buatan manusia terdiri dari bentuk-bentuk kota yang dibangun, struktur fisik dan pengaturan ruangnya serta pola-pola perilaku sosial, politik, dan ekonomi yang membentuk lingkungan fisik tersebut. Kedua perspektif ini saling mempengaruhi. Seringkali lingkungan buatan manusia memberikan dampak yang 'disengaja' bagi lingkungan alam, seperti pada pembangunan sistem infrastruktur drainase dan pengairan, didalamnya terdapat proses yang meluas selain urusan air, seperti tenaga, pengangkutan, dan sebagainya. Perhatian dalam perancangan tapak ditujukan guna menjamin bahwa suatu tapak cocok dengan sistem-sistem buatan manusia ini. lebih tepatnya simbiosis mutualisme antara sistem alam dengan sistem buatan manusia.
Dalam perencanaan dan perancangan tapak, kita sebagai arsitek sudah selayaknya dapat berperan untuk memberikan kontribusi maksimal bagi fungsi ruang dan keseimbangan alam, sehingga dapat tercipta sebuah 'karya bijak' yang kontekstual.
sumber : Pengantar Arsitektur,
JC snyder - AJ catanese
photography : Givi Andriyanto






